Mojokerto (MajaMojokerto) – Launching Pameran Lukisan dan Fotografi bertema “Merekam Realitas, Merawat Budaya” di sambut apresiasi Forkopimda Mojokerto dan Pengusaha serta kalangan OPD di Sunrise Mall Mojokerto. Rabu (08/07/2026).
Pameran ini berlangsung mulai 1 Juli hingga 31 Agustus 2026 di Sunrise Mall Mojokerto.
Tampak hadir, Forkopimda plus Mojokerto dan pengusaha serta para OPD. Bukan hanya itu saja, hadir pula Wakil Wali Kota Mojokerto, Wakil Bupati Mojokerto, Ketua DPRD Kota Mojokerto, Ery Purwanti, kalapas Mojokerto, Ketua PWI Jawa Timur (Lutfil Hakim), instansi vertikal, pimpinan perangkat daerah, kalangan dunia usaha, organisasi profesi wartawan, komunitas seni, fotografer, serta tamu undangan dari berbagai daerah.
Suasana pembukaan diawali penampilan Tari Gebyar Barong yang dibawakan Saza, siswi kelas I SDN Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Meski masih belia, penari cilik itu tampil piawai membawakan tari kreasi tunggal hingga mendapat tepuk tangan meriah dari para tamu.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menilai tema “Merekam Realitas, Merawat Budaya” memiliki makna yang sangat relevan dengan Mojokerto sebagai wilayah pewaris peradaban Majapahit.
“Melalui lukisan maupun fotografi, kita dapat merawat sejarah, budaya, dan seni yang diwariskan para pendahulu. Jejak kebesaran Majapahit tidak hanya tersimpan dalam situs dan artefak, tetapi juga dalam rekaman kehidupan sosial, seni, dan budayanya”, katanya.
Wali Kota Mojokerto yang biasa akrab disapa, kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kekuatan sumber daya manusianya dalam menjaga sejarah dan kebudayaan.
“Semangat inilah yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda. Apa yang kita nikmati hari ini tidak lepas dari warisan peradaban yang dibangun leluhur kita berabad-abad lalu,” katanya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan fotografer dari berbagai daerah, termasuk anggota PFI dan pegiat fotografi dari Banyuwangi, bahkan luar Jawa Timur. Dari sisi lain ia juga menilai pameran seni tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian sekaligus merawat sejarah dan budaya daerah.
“Kalau kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, tentu akan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Mojokerto,” cetusnya.
Sementara itu, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra mengulas pengalaman studinya di Mesir saat menjelaskan hubungan antara seni dan peradaban.
Menurutnya, pada masa Mesir Kuno, pahatan, lukisan, dan simbol menjadi media komunikasi utama ketika sebagian besar masyarakat belum mengenal baca tulis.
“Lukisan dan pahatan menjadi media untuk menyampaikan sejarah, kehidupan masyarakat, nilai-nilai, bahkan pesan kekuasaan. Dalam konteks itu, karya visual adalah koran, buku sejarah, sekaligus media komunikasi yang mampu bertahan melampaui zaman,” ujarnya.
Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim mengaku terkesan melihat kekompakan Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang hadir bersama dalam satu kegiatan.
“Saya sudah berkeliling Jawa Timur menghadiri berbagai acara, tetapi baru kali ini melihat wali kota dan bupati hadir bersama. Ini menunjukkan kondusivitas yang sangat baik. Saya yakin kondisi seperti ini juga akan menjadi inspirasi bagi teman-teman wartawan di Mojokerto,” katanya.
Ia menilai pameran tersebut membuktikan jurnalis tidak hanya piawai merangkai fakta menjadi berita, tetapi juga mampu menghadirkan nilai melalui karya seni.
“Wartawan tidak hanya pandai merangkai kata dan fakta, tetapi juga merangkai warna. Baik melalui tulisan maupun lukisan, karya yang lahir harus menghadirkan kejujuran, kepekaan, cinta, dan makna. Seni merupakan bagian dari peradaban,” ujarnya.
(Zky)
Baca juga :