Suap 300 Juta, Ternyata Pensiunan Pabrik Ini Tertipu

Wijayantono warga Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari mengaku ditipu sejumlah orang hingga Rp 332 Juta dengan jaminan putranya bakal lolos rekruitmen calon bintara (Caba) TNI AD. Kemarin siang (4/1), pria 57 tahun tersebut melapor ke satreskrim polres Mojokerto Kota karena janji itu tak kunjung terealisasi.

Aksi penipuan yang berlangsung pada awal tahun 2019 silam ini bermula saat wijayantono bertemu dengan BS. Pria asal bojonegoro tersebut mengaku bisa membantu krisna, putra Wijayantono menjadi anggota TNI tanpa proses seleksi. BS merupakan sosok yang direkomendasikan oleh JS, teman wijayantono semasa masih kerja di pabrik kawasan Rungkut, Surabaya.

Setelah pertemuan itu, BS mendatangi rumah Wijayantono dan meminta uang sebesar Rp. 50 Juta sebagai uang muka. Biaya tersebut di transferke rekening BS melalui rekening istri korban pada 16 Mei 2019. “Uang tanda jadi katanya, dia bukan anggota (TNI) tapi saya ya percaya saja karena katanya sudh banyak yang diloloskan,” Ucap Wijayanto.
Hampir sebulan kemudian, keluarga korban diajak bertemu seorang pria berinisial FP di sebuah hotel di surabaya. Pria yang tak diketahui domisilinya ini mengaku berkerja di Kementrian Sekretariat Negara RI sebagai tangan kanan nya Jusuf kalla, wapres saat itu. korban kali ini diminta uang sebesar Rp 100 juta sebagai biaya pemulus untuk memasukkan anaknya sebagai anggota TNI.

Tak hanya itu, FP juga memberi iming iming bisa meloloskan istrinya sebagai PNS di Mojokerto asal mau membayar Rp 50 Juta. Total uang 150 juta diberikan ke FP melalui sang sopir berinisial AG saat itu juga. Penyerahan itu di lakukan tanpa kuitansi atau bukti tertulis.

Wijayanto menyebut, anaknya sempat tinggal selama tiga bulan di asrama khodam V brawijaya untuk menjalani pelatihan persiapan seleksi. Namun, saat hendak mendaftar di anjrem Mojokerto sebagai Caba TNI AD ternyata tidak ada kuota rekruitmen. “saya yalangsung menghubungi orang itu (FP) karena anak saya tidak masuk. Dan sopirnya (AG) datang ke rumah saya dan minta uang lagi Rp 100 juta,” terangnya.

Uang tambahan diserahkan ke secara langsung tanpa tanda terima. Wijayantono mengaku sempat menaruh curiga dengan (FP). Namun, karena terus diyakinkan oleh BS, ia tetap menuruti permintaan pelaku. Bahkan, tak hanya berhenti disitu, FP kembali meminta uang sebesar Rp 25 Juta dengan dalih untuk biaya pemindahan data rekruitmen. Rp 15 juta ditransfer lewat kantor pos dan Rp 10 Juta lewat rekening Istrinya.

“Saya curiga, tapi disuruh percaya terus. Orang itu (FP) minta minta uang terus,” ujar dia.

Permintaan itu terus berlanjut hingga akhirnya korban kembali dipaksa menyerahkan uang sebesar Rp 32,9 juta untuk keperluan tes serta Rp 30 juta untuk pengangkatan PNs istrinya. “kalau tidak saya beri katanya tesnya batal,” imbuhnya lirih.

Hingga berbulan-bulan kemudian, proses itu tak kunjung terealisasi. Seleksi masuk TNI maupun PNS tak ada yang jelas jluntrungnya. Pelaku mulai sulit dihubungi. Selama dua tahun dia berusaha menagih dan mencari kejelasan, namun tidak ketemu. Total uang yang telah diserahkan ke BS, AG, dan FP selama proses ini sebesar Rp 332.900.000. Uang tersebut merupakan hasil dari pesangon yang didapatnya saat pensiun dini hari serta berbagai sumber mulai dari menjual perhiasan hingga pinjam ke bank.

Kemarin, korban korban mendatangi Kapolres Mojokerto Kota sekitar pukul 13.30. dia diantar petugas satsabhara ke satreskrim untuk melaporkan kasus penipuan tersebut. Hingga sore, korban korban masih dimintai keterangan oleh penyidik di ruang unit 3. “masih diperiksa penyidik sepertinya. Kita belum menerima laporannya,” terang KBO Satreskrim Polres Mojokerto Kota Iptu Khusnol Hidayat. (gk)

Baca juga :