Pengusaha Produksi Kerupuk Keluhkan Harga Minyak Goreng di Kabupaten Mojokerto Yang Masih Tinggi

Kenaikan harga minyak goreng baik curah, hingga kini masih belum stabil di Kabupaten Mojokerto. Hal ini sangat berdampak terhadap keuntungan pengrajin kerupuk. Dampak paling signifikan, yakni mereka harus mengurangi produksi hingga mengurangi jam kerja karyawan.

Salah satu pengusaha kerupuk samiler di Dusun Ketegan, Desa Kejambon, Kecamatan Gondang misalnya. Dalam satu hari setidaknya usaha kerupuk samiler milik Sri Hartini, (48), menghabiskan 14 liter minyak kemasan untuk menggoreng kerupuk 50 kilogram.

Informasi yang dihimpun Reporter Maja FM, harga minyak yang tidak stabil dan cenderung naik, maka pengusaha harus rela mengurangi produksi hingga jam kerja karyawan.

Sri Hartini mengatakan, sejak 12 tahun jadi pengrajin kerupuk baru ditahun 2021 ini, pihaknya mengalami situasi minyak goreng kemasan mengalami kenaikan harga yang signifikan.¬†“Biasanya stabil, ini makin naik. Dari harga awal Rp 25 ribu per dua liter, terus Rp 26 ribu, sempat diharga Rp 30 ribu. Dan sekarang malah jadi Rp 35 ribu per dua liter,” ucapnya.

Naiknya harga minyak kemasan sejak tiga minggu ini, tentunya berdampak terhadap pengrajin. Ia harus rela menerima keuntungan dari prosentase sepuluh persen, menjadi lima sampai tujuh persen saja. Untuk mensiasati itu, dia harus rela mengurangi jam kerja karyawannya.

“Biasanya sepuluh orang langsung kerja satu hari. Sekarang saya kurangi, lima orang tiga hari, lima orangnya lagi tiga hari,” terangnya.

Selain harga yang melambung tinggi, akhir-akhir ini stok minyak kemasan juga mulai sulit dicari. Meski begitu, wanita yang sejak tahun 2010 sudah bergelut diproduksi samiler ini mengaku, akan tetap membeli minyak kemasan tersebut.

Sebagai pelaku UMKM, dia hanya bisa berharap harga minyak goreng bisa stabil kembali. Sebab, dalam satu bulan harus memiliki stok 20 kardus atau 240 liter agar produksi kerupuk samiler yang sudah didistribusikan hingga luar pulau Jawa tersebut tidak terganggu.

“Pengennya stabil lagi, kalau makin naik terus mau gak mau isi perkemasan kita kurangi dua sampai tiga keripik. Daripada harus menaikkan harga jual, nanti takut di komplain pelanggan,” tandasnya. (fad/gk/mjf)

Baca juga :