Baru Dibuka, Dua Jembatan Apung di Ngoro Mojokerto Kembali Putus Diterjang Banjir

Dua jembatan apung antar kabupaten yang berada di kawasan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, kembali terputus diterjang banjir.

Selain berimbas pada aktivitas warga yang harus berputar lebih jauh, jembatan dari kayu dan bambu ini, yang juga biasanya dijadikan jalur alternatif menuju salah satu desa yang ada di Kabupaten Sidoarjo, kini terbengkalai.

Dua jembatan apung tersebut yakni Jembatan Batang di Desa Candiharjo dan Jembatan Batang di Desa Tambakrejo yang berada di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Dari informasi yang diperoleh, putusnya dua jembatan yang melintang di atas Kali Porong itu akibat diterjang banjir pada Jumat (25/6) dini hari. Itu setelah wilayah Mojokerto diguyur hujan lebat sejak Kamis (24/6) malam. Tingginya debit dan arus sungai membuat jembatan yang terdiri dari kayu dan drum plastik itu putus.

Salah seorang warga sekitar Agus Nugroho mengatakan, jembatan penghubung tersebut putus pada Jumat (25/06/2021) malam sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu wilayah Mojokerto tengah terjadi hujan deras yang berimbas pada melubernya air sungai.

Padahal, jembatan penghubung antara Mojokerto dengan Sidoarjo belum genap dua bulan dibuka sejak Mei lalu. Sebelumnya pada bulan Desember 2020 jembatan apung tersebut juga terputus akibat diterjang banjir.

“Ya muter sana mas, lewat jembatan Jasem, Kalau gak salah kurang lebih 10 Kilometer (Km),”ungkapnya Selasa (29/06/2021).

Imbas dari putusnya jembatan tersebut membuat warga harus memutar sejauh kurang lebih 10 kilometer. Lantaran kedua jembatan itu menjadi akses warga setempat untuk ke sekolah, menuju Pasar Porong, dan untuk pekerja dari Sidoarjo menuju kawasan Ngoro Industrial Park (NIP).

”Kalau begini ya warga harus memutar lewat (jembatan) Desa Jasem, itu sekitar 10 kilometeran,” jelasnya di lokasi.

Sementara itu, Kepala Dusun Perjito Desa Candiharjo Anang Sujiono, mengatakan, kedua jembatan tersebut baru dibuka kembali pertengahan Mei lalu. Namun belum sampai dua bulan, jembatan yang mengapung di atas ratusan drum plastik itu harus putus diterjang banjir. Putusnya jembatan apung itu bukan kali pertama.

Hingga kini, pihaknya masih belum bisa memastikan kapan jembatan apung tersebut bakal diperbaiki hingga bisa kembali dilalui warga. Lantaran pendirian jembatan tersebut hasil kucuran dana dari donatur.

”Masih belum tahu, karena cuacanya kan juga masih begini (tak menentu). Sebelum-sebelumnya memang dibuka lagi kalau sudah musim kemarau, karena airnya surut ndak deras,” tegas Anang. (fad/aya/mjf)

Baca juga :