Cinema Without Magic, Film Pendek Karya Pemuda Mojokerto Menang di Ajang Penghargaan Tingkat Dunia

foto : proses pembuatan film

Film Pendek karya pemuda asal Kota Mojokerto yang berkolaborasi dengan komunitas Studio Cerita dan Hi Films dengan judul “Cinema Without Magic” meraih penghargaan di ajang Word Film Carnival Singapore tingkat dunia. Sabtu (19/06/2021)

Film yang di Sutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Wahyuddin Hasani Widodo (22) ini mampu mengalahkan finalis dari berbagai negara lain.

Wahyu sebagai sutradara saat memberikan arahan.

Film berdurasi 15 menit ini mengalahkan peserta lain dari beberapa negara, seperti Filipina dan Australia.

Tak tanggung-tanggung, filem pendek dengan judul “Cinema Without Magic” ini mendapatkan dua penghargaan sekaligus, yakni Outstanding Achievement Awards untuk kategori Short Films dan Silent Film.

Wahyuddin Hasani Widodo saat dikonfirmasi mengatakan, tak menyangka filem pendek sineas dengan judul “Cinema Without Magic” garapanya bersama komunitas Studio Cerita yang merupakan komunitas Film Mojokerto dan HI Films (Jakarta) bisa mendapatkan penghargaan di kanca Internasional.

Terlebih, mampu bersaing dengan negara-negara lain di tingkat Internasional di Singapura.

Menurut dia, film pendek berjudul “Cinema Without Magic” yang ia garap selama 1 setengah bulan lamanya bersama kurang lebih 40 orang kru ini di mulai sejak bulan April 2021.

Proses ini terbilang lumayan lama, lantaran proses pembuatan filem ini dilakukan dari akar. Yakni mulai development (pengembangan cerita) yang dilakukan pada akhir Maret dan selesai pada tanggal 10 Mei 2021.

“Untuk pemain juga kita gak mian-main, kita melakukan casting selama 2 hari, para pemain/talent meruapakan mereka yang sudah pernah bermain syuting film di layar lebar, terutama untuk peran utama Pak Roci marciano, beliau adalah aktor teater dan film, lulusan S.2 theater ISI yogyakarta. Dan sekarang sebagai pengajar aktif di STKW Surabaya,” ungkap pria yang tumbuh besar di Kota Mojokerto Minggu (20/06/2021).

Tak hanya itu, lebih lanjut pria yang akrab disapa Wahyu itu juga mengaku proses pembuatan filem juga sempat mengalami kesulitan lantaran harus membangun set khusus di sebuah gedung indoor yang sesuai dengan kebutuhan skenario.

“Jadi temen-temen ini sampai harus membangun tempat khusus di dalam ruangan untuk meyesuaikan, kebutuhan skenario,”bebernya.

Dia menurutkan, film ini diproduksi untuk membicarakan suatu permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Film ini juga mencoba membicarakan perubahan pola tonton film yang kini daya kontrol sebuah film bukan lagi pada pembuatnya, namun ada pada penonton.

film pendek berjudul “Cinema Without Magic” (Bioskop Tanpa Sihir) bercerita tentang kisah seorang tukang sulap muda yang datang disebuah daerah yang tak mengenali sihir/sulap.

Namun kedatangannya menuai berbagai tanggapan muali menanggapi dengan senang hati, ada yang tidak peduli, dan ada yang tidak suka pertunjukannya.

“Kekuatan utama “Cinema Without Magic” (Bioskop Tanp Sihir) terletak pada bagaimana film ini memproyeksikan suatu bentuk kehidupan masyarakat yang memberikan berbagai macam respon ketika suatu hal baru/pembaruan datang,”jelasnya.

Tak hanya itu, dalam film ini juga memperlihatkan kesiapan masyarakat akan segala sesuatu yang sekarang serba cepat dan memaksa masyarakat harus adaptif (mudah menyesuaikan dengan keadaan,red), sehingga hal itu menuai respon positif, tapi juga ada yang meresponnya dengan negatif.

Dengan didapatkannya penghargaan kali ini, ia berharap mampu memberikan suporter dan merangsang kepad komunitas lain khususnya generasi muda Mojokerto untuk terus berkarya.

“Harapannya nanti ada bibit bibit baru yang muncul dengan ciri khas dan ketulusan hati dalam berkarya”tegasnya.

Penghargaan di ajang Word Film Carnival Singapore yang diterima oleh Wahyu menambah deretan panjang prestasi yang diraih oleh Sineas asal Kota Mojokerto ini.

Diantaranya Wahyu pernah meraih juara 2 film pendek terbaik di PIXEL 5.0 (padang pajang) dengan Judul film: Janji Yang Tak Kunjung Tuntas pada tahun (2019).

Lalu menjadi Nominasi film pendek terbaik di Semester Pendek 2020 – Kolektif film (Jakarta) dengan judul Putri?

“Ini baru pertama kalau mendapatkan penghargaan secara Internasional, selama ini cakupannya nasional aja,”tandasnya. (fad/mjf)

Baca juga :