Setelah Buaya Ditangkap Warga Mojokerto, BKSDA Jatim Lakukan Kajian Soal Habitat

Warga Dusun Toyorono, Desa Sukoanyar, Ngoro, Mojokerto akhirnya menangkap Buaya Muara yang menampakan wujudnya di Aliran Sungai Sadar. Buaya jantan itu rencananya akan di karantina kemudian dikembalikan ke habitat aslinya.

Saat ini, buaya muara yang memiliki panjang hampir dua meter itu diamankan di salah satu ruangan milik Balai Desa Sukoanyar, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Informasi yang dihimpun Reporter Maja FM, untuk sementara dalam kurun waktu tiga sampai empat hari ke depan, Buaya Muara itu akan di karantina sembari menunggu hasil kajian habitat yang dilakukan oleh petugas dari BKSDA Jawa Timur.

“Kita akan lakukan kajian habitat dahulu sebelum melepasliarkan kemabli buaya ini,” ungkap RM Wiwid widodo Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah 2 Provinsi Jatim.

Menurutnya, secara regulasi BKSDA memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan terhadap satwa liar. Termasuk memberikan jeratan pidana terhadap mayarakat yang sengaja menangkap, memelihara hingga memburu satwa liar.

Hal ini untuk mengantisipasi adanya konflik satwa yang bisa terjadi dengan warga sekitar.

“Yang dimaksud konflik satwa ini bisa saja merugikan mayarakat, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terlebih saat Buaya ini kekurangan makanan. Artinya keselamatan masyarakat disepanjang sungai sadar menjadi perhatian,” terangnya.

Namun dalam hal ini, pihaknya mengucapkan banyak terimakasih terhadap penangkapan Buaya Muara tersebut kepada pemerintah desa juga masyarakat sekitar. Karena telah menyelamatkan buaya tersebut dari buruan mayarakat yang masih awam.

“Setelah kita lekukan koordinasi, ternyata buaya ini ditangkap karena masyarakat ingin menyelamatkannya dari para pemburu yang awam. Sebab beberapa hari yang lalu buaya ini banyak diburu oleh masyarakat,” jelasnya.

Sebelum melepasliarkan buaya itu, pihaknya akan menerjunkan tim untuk melakukan kajian lingkungan selama tiga sampai empat hari disepanjang aliran Sungai Sadar.

Jika memungkinkan, maka Buaya itu akan dilepaskan ke habitat semula. Namun jika tidak, maka akan dilepaskan ke Muara yang berada di wilayah Porong.

“Kajian habitat ini meliputi apakah benar disepanjang aliran sungai ini tersedia sumber pangan yang cukup. Kemudian tempat berlindung, bermain dan berjemur. Kalau secara kajian memenuhi, maka akan kita lepaskan ke habitatnya. Jika tidak seusai, maka akan kita kembalikan ke Muara. Yakni di porong,” tambahnya.

Dia menghimbau agar masyarakat selalu berwaspada terhadap adanya potensi kemunculan hewan liar. Salah satunya Buaya Muara ini.

” Tidak menutup kemungkinan. Sebab, Buaya Muara ini jenis buaya yang memiliki daya jelajah sampai 70 kilometer saat mencari makan dikala habitatnya rusak. Sebetulnya perilaku satwa liar apapun itu memiliki pakem tidak akan mengganggu manusia kalau tidak diganggu. Kenapa ada konflik karena ada yang menganggu,” tandasnya. (fad/gk/mjf)

Baca juga :