Menahan Laju Kepunahan Burung Endemik di Mojokerto, Relawan Welirang Lepas Puluhan Burung Langka

Berlokasi di Kawasan Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Relawan Welirang kembali melepaskan burung yang populasinya hampir punah.

Menurut informasi yang dihimpun Reporter majamojokerto.net, mereka bersama potensi relawan lain yakni LPBI- NU Kabupaten Mojokerto juga Polsek Pacet dan Perangkat Desa Candiwatu, melepaskan puluhan burung berbagai macam yang dianggap telah langkah.

Diantaranya yakni Cendet sebanyak 7 ekor, Perkutut 20 ekor, Jalak Kebo 20 ekor, Prenjak 5 ekor, Mantenan 3 ekor.

Selain Itu, terdapat burung Sirpu 3 ekor, Sikatan Limo 3 ekor, Weris 5 ekor, dan tujuh ekor Tyto Alba berusia sekitar tiga bulan yang masih harus dilakukan penangkaran selama tiga bulan agar bisa dilepas liarkan ke alam bebas.

Ketua Relawan Welirang Community Nurruddiyan kholiq menjelaskan, pelepasan kembalinya burung ke alam liar ini merupakan pelepasan yang kelima kalinya dilakukan. Hal ini bertujuan untuk menjaga ekosistem alam khususnya dari pemburuan liar manusia.

Pelepasan sengaja dilakukan di Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet lantaran ingin memulai dari sektor bawah sebelum merambah di kawasan yang lebih luas. Di lain sisi, pelepasan puluhan burung ini juga sangat membantu petani dalam memerangi hama yang menyerang area pertanian.

Menurutnya kawasan Desa Candiwatu merupakan daerah dengan kontur wilayah pegunungan dengan banyak lahan hijau di dalamnya.

Kondisi itu menjadi habitat beragam jenis burung. Dahulu, di Desa tempatnya ia tinggal terkenal dengan keberagaman satwa burung yang hidup bebas di alam liar. Kicauan burung-burung itu bahkan dapat didengar tidak hanya di pegunungan dan hutan, namun sampai di persawahan, hingga perkampungan.

“Beberapa burung langka atau hampir punah yang dilepaskan. Untuk menjaga ekosistem alam agar tetap terjaga, walau memang pohon-pohon pendukung di sekitar sini banyak yang sudah tidak ada dan ini adalah bentuk dari ikhtiar kita bersama,” ucapnya.

Setidaknya dalam pelepasan kali ini terdapat kurang lebih 60 an ekor burung yang dilepas di alam liar. Burung-burung ini didapati dari sejumlah pedagang hewan, dengan cara dibeli untuk dilepas liarkan agar bisa berkembang biak di alam bebas sehingga kembali beranak pinak.

Bahkan, keseriusan untuk menjaga ekosistem burung di lingkungan juga diimplementasikan dengan mengandeng Pemerintah Desa desa Candiwatu.

Pihaknya bersama potensi relawan lain akan membuat Peraturan Desa (Perdes) agar warga tak lagi melakukan penangkapan terhadap jenis-jenis burung endemik alam setempat yang mulai mengalami kepunahan.

Sementara itu Kepala Desa Candiwatu, Andik Yulianto menambahkan, tak segan bila membuat peraturan desa tegang pelarangan pemburuan burung di desanya. Mengigat hal ini juga demi kebaikan bersama.

“Perdes nanti dipastikan tentang larangan berburu oleh warga untuk melindungi swaka hewan yang ada di Candiwatu dan sekitarnya,” jelas Lurah Candiwatu Andik Yulianto.

Andik menyebut Perdes ini nanti akan mengatur larangan berburu hewan langka dan konsekuensinya bagi warga yang nekat melakukan perburuan. Yakni, akan diberikan teguran langsung hingga dikenakan denda yang disesuaikan dengan jenis hewan yang ditangkap dan dijual.

Mengingat tingginya permintaan terhadap unggas tersebut oleh para penjual hewan. Hingga membuat warga sekitar melakukan perburuan secara masal.

“Hari ini akan kami susun dan rancang. Yang jelas pointnya dilarang berburu, menangkap, apalagi menjaring burung-burung sekitar sini. Kalau ada yang masih nekat kita akan tarik buruknya dan dikenakan denda terhadap warga yang menangkap dan menjualnya,”tandasnya. (fad/gk)

Baca juga :