Hari Ketiga, KPK Periksa Empat Saksi Terkait Kasus MKP Mantan Bupati Mojokerto

Pemeriksaan pejabat Pemkab Mojokerto terus dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di hari ketiga pada Rabu kemarin (21/04/2021), ada empat orang yang dipanggil untuk dimintai keterangan tentang kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), serta jual beli jabatan dengan tersangka mantan Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP).

Informasi yang dihimpun Reporter Maja FM, mereka yang diperiksa di hari ketiga, yakni Susantoso Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Pemkab Mojokerto, Ahmad Yasin penjaga rumah Pribadi MKP, Nano Santoso serta Siti Nur Cholilah.

Namun dalam pemeriksaan di hari ketiga ini dialihkan dari Aula Hayam Wuruk lt.2 Mapolres Mojokerto Kota, menjadi di Ruang Unit 2 Kantor Satreskrim Polres Mojokerto Kota.

Keempatnya dimintai keterangan terkait dugaan aliran sejumlah uang kepada tersangka Mustofa. Sekitar pukul 10.00 WIB, penyidik KPK memulai pemeriksaan. Keempat saksi memenuhi panggilan KPK, salah satunya adalah Susantoso Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Pemkab Mojokerto.

Ia diperiksa sebagai saksi kurang lebih 15 menit. Saat keluar dari ruang pemeriksaan, dia nampak membawa berkas map berwarna hijau.

Saat dimintai keterangan soal pemeriksaan KPK terhadapnya, ia mengaku tidak diperiksa dan hanya diminta menandatangani suatu berkas tertentu. “Hanya paraf, nggak ada (aliran dana yang mengalir ke KPK),” ungkapnya singkat.

KPK mengumumkan Mustofa sebagai tersangka TPPU pada 18 Desember 2018. Dari penerimaan gratifikasi oleh Mustofa sekitar Rp34 miliar, KPK menemukan dugaan TPPU oleh yang bersangkutan.

Mustofa disangkakan melanggar pasal 3 dan atau pasal 4 Undang Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Mustofa diduga menerima “fee” dari rekanan pelaksana proyek-proyek dl lingkungan Pemkab Mojokerto, Dinas dan SKPD/OPD, Camat, dan Kepala Sekolah SD-SMA di lingkungan Kabupaten Mojokerto. Total dugaan pemberian gratifikasi setidak-tidaknya sebesar Rp 34 miliar.

Mustofa diduga tidak pernah melaporkan penerimaan gratifikasi tersebut pada KPK sebagaimana diatur di Pasal 16 UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK dan Pasal 12 C Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Tersangka Mustofa diduga menyimpan secara tunai atau sebagian disetorkan ke rekening bank yang bersangkutan atau diduga melalui perusahaan milik keluarga pada Musika Group, yaitu CV Musika, PT Sirkah Purbantara (SPU-MIX), dan PT Jisoelman Putra Bangsa dengan modus hutang bahan atau beton.

Mustofa juga diduga menempatkan, menyimpan, dan membelanjakan hasil penerimaan gratifikasi berupa uang tunai sebesar sekitar Rp 4,2 miliar, kendaraan roda empat sebanyak 30 unit atas nama pihak lain, kendaraan roda dua sebanyak dua unit atas nama pihak lain, dan jet ski sebanyak lima unit. (fad/and/mjf)

Baca juga :