Cara Relawan Mojokerto Bantu Sesama, Urunan Demi Bangun Rumah Layak Huni

Mojokerto – Masih banyaknya rumah yang tak layak huni, mengetuk hati relawan di Mojokerto. Tak tangung-tangung mereka merobohkan dan membangunnya kembali rumah masyarakat yang kurang mampu dengan uang hasil patungan.

Informasi yang dihimpun Reporter Maja FM, aksi sosial ini lahir dari rasa prihatin atas kondisi rumah tak layak huni bagi keluarga kurang mampu.

“Untuk dana yang kami pakai ini murni hasil urunan dari sekitar 60 anggota. Ini tanpa kerjasama dengan pihak manapun,” ujar Nurruddiyan Kholiq, Ketua Umum Welirang Komuniti.

Dia menjelaskan, adanya bangun rumah itu agar dapat memicu kepekaan masyarakat untuk saling berbagi. “Bangun rumah ini usulan dari teman-teman (anggota) sendiri. Tujuannya supaya masyarakat dan pemerintah bisa lebih peka lagi pada sesamanya yang kurang mampu,” tambahnya.

Dan kini pihaknya tengah memperoses satu rumah di Dusun Sumberbendo, Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet. Bulan depan pihaknya bakal membangun satu rumah lagi di Dusun Terongmalang, Desa Candiwatu.

“Rumah warga itu yang masih dari gedek (semi permanen), belum permanen lah. Jadi kami bongkar total dulu, baru kami bangun keseluruhan dari awal,” sebutnya. Pihaknya merubah bangunan bukan permanen menjadi permanen.

Delta, sapaan akrab Nurruddiyan Kholiq, meneyebutkan, rumah yang dibangun itu berkisar dari ukuran 5 meter x 7 meter atau tipe 36. Namun, ukuran tersebut bukan mejadi acuan baginya. “Kalau ukurannya itu sebenarnya fleksibel, menyesuaikan lah. Yang pasti bangunan rumah itu kami bentuk jadi permanen dari batu bata ringan,” tandasnya.

Pihaknya menambahkan, untuk membangun sebuah rumah layak huni itu Welirang Komuniti harus menggelontorkan dana puluhan juta. Untuk mendatangkan material dan tukang.

Dalam proses pembangunan, pihaknya melibatkan relawan dan pemilik rumah. “Untuk satu rumah itu biayanya sekitar Rp 25 juta – Rp 30 juta dan kami pakai batu bata ringan buat temboknya,” kata Delta.

Program bangun rumah tersebut sudah punya waiting list hingga pertengahan tahun depan. Total, sudah ada data delapan rumah tak layak huni yang dikantongi Welirang Komuniti.

“Dari Januari sampai Juli tahun depan kami sudah punya waiting listnya. Jadi, ada tujuh rumah lagi yang akan kami rombak total,” tambahnya.

Dia menyebutkan, data rumah tak layak huni tersebut diperoleh hasil survey komunitas sendiri. Sebab, data rumah tak layak huni dari dinas terkait dirasa masih kurang akurat. Otomatis, data pemilik rumah tak layak huni tersebut menjadi kendala tersendiri bagi pihaknya.

“Kalau dari Dinas Sosial (Kabupaten Mojokerto) itu kayaknya kurang akurat. Karena penerima yang sebelumnya tidak mampu, sekarang bisa termasuk keluarga mampu,” sebutnya.

Untuk itu pihaknya melalukan survey langsung ke calon penerima bantuan guna memastikan kelayakannya. Untuk kriteria calon penerima bantuan, pihaknya tak memberi banyak syarat. Utamanya bagi mereka yang tergolong ekonomi rendah dan bangunan rumahnya belum permanen. “Yang pasti itu tanahnya harus sudah milik pribadi,” jelasnya.

Sebelumnya, dia sempat menolak calon penerima bantuan karena status kepemilikan tanahnya bukan milik pribadi. Alhasil, calon penerima tersebut dicoret dari daftar. “Sempat waktu itu ada yang mengajukan, tapi tanahnya milik pengairan. Jadi ya ndak bisa, kan itu menyalahi aturan,” ujarnya.

Dalam menggelar aksi sosial tersebut, pihaknya tak hanya melibatkan relawan, namun juga warga setempat. Menurutnya, keterlibatan warga setempat dapat memupuk rasa gotong royong dan tepo seliro (tenggang rasa).

“Kami juga libatkan warga desa setempat untuk dijadikan panitia. Selain sebagai pengawas progres pembangunan rumah, itu bisa memupuk rasa gotong royong masyarakat sendiri,” tukasnya. (fad/gk)

Baca juga :