Wanita Muda Asal Mojokerto Sukses Budidaya Lobster Air Tawar, Omzetnya Ratusan Juta

Mojokerto – Mempunyai bisnis sendiri mungkin menjadi mimpi sebagian orang di tengah Pandemi yang belum kelar. Salah satu ide bisnis yang patut ditengok adalah budidaya lobster air tawar yang ditekuni gadis lulusan SMA di Kota Mojokerto.

Informasi yang dihimpun Repirter Maja FM, berbekal tekat yang kuat, Ayu Nandita sukses budidaya lobster air tawar dilahan sempit. Bahkan, kini usaha yang digeluti sejak 2015 yang lalu, kini telah menghasilkan omset yang menjanjikan.

Wanita yang kini berusia (24) asal Jalan Anjasmoro, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto tersebut, tak pernah menyangka jika usaha yang digelutinya bisa sesukses ini. Padahal, sejak lulus SMA dia bercinta-cita ingin menjadi seorang dokter.

Karena gagal, dia akhirnya memutuskan untuk memulai berwirausaha bisnis budidaya lobster air tawar. “Lulus SMA saya saat itu daftar kuliah kedokteran, tapi gagal,” ujarnya, Senin (23/11/2020) siang.

Berbekal kegagalan tersebut, akhirnya membuat Ayu merubah pikirannya untuk menjadi wirausaha. Di tahun 2015, gadis berparas manis dengan kacamata yang melekat di kedua telinganya ini mencoba bisnis budidaya lobster air tawar.

Lagi-lagi dia harus dihadapkan dengan kegagalan. Bermodal uang sebesar Rp 5 juta untuk membeli benih, dia pun gagal membudidayakan jenis hewan bercangkang. Karen benih yang di beli di Solo mati. “Modal awal saya Rp 5 juta saya beli benih, kemudian saya taruh di aquarium tapi mati semuanya,” tuturnya.

Gagal di percobaan pertama, Ayu kemudian mencoba mengamati dan kembali mencoba lagi. Akhirnya dia memutuskan membeli benih, dan berhasil memulai budidaya serta meraih hasil jerih payahnya.

“Dipercobaan kedua, baru saya bisa menjalankan bisnis budidaya lobster air tawar. Hingga kini sudah ada puluhan karyawan yang membantu saya,” paparnya.

Kini, dirinya bersama keluarganya menyulap sebuah rumah sederhana menjadi tempat budidaya lobster air tawar yang dipenuhi puluhan kolam berbahan terpal dengan konstruksi kayu.

Dia memiliki kolam budidaya ikan lobster air tawar yang seluruhnya berukuran 2 x 1 meter dan berjumlah 30 kolam.

Dia mengembangkan dua jenis lobster yaitu Red Claw (Konsumsi) dan Carki dari empat jenis lobster air tawar yang ada di Indonesia.

Lobster air tawar Red Claw untuk konsumsi yang dipasarkan melalui restoran dan dijual ke pasaran. Sedangkan, lobster jenis Carki atau lobster hias berwarna biru dan merah yang pemasarannya di toko-toko ikan hias.

Alhasil, hingga kini budidaya lobster air tawar miliknya sudah beromset Rp 100 juta perbulan. Bahkan di tengah Pandemi saat ini, usaha yang dirintis selama lima tahun itu nyaris tidak terdampak Pandemi Covid-19. Justru omzet pendapatnya naik tiga kali lipat mencapai sekitar Rp 250 juta per bulan.

“Kalau omzet justru naik saat Pandemi sampai tiga kali lipat dari kondisi normal sekitar Rp 100 juta per bulan, yang kini dapat mencapai Rp 250 juta per bulan,” ungkap gadis lulusan SMA Taman Siswa Kota Mojokerto, Selasa (24/11/2020).

Dia sempat pesimis bakal terdampak saat awal Pandemi Covid-19. Namun kenyataannya, pesanan dan petani mitra yang bergabung semakin meningkat.

“Dalam kondisi normal dalam sehari ada lima orang petani mitra bergabung. Namun sekarang melebihi 20 sampai 30 orang bergabung menjadi mitra,” bebernya.

“Apalagi, banyak pengurangan tenaga kerja dan Work From Home akibat dampak Pandemi, sehingga memicu beralih fokus untuk budidaya lobster air tawar,” imbuhnya.

Menurut Ayu, budidaya lobster air tawar ini tidak hanya menyerap puluhan tenaga-tenaga lokal, melainkan mampu memberikan peluang bermitra dengan masyarakat luar yang akan berniat berwirausaha budidaya lobster air tawar.

“Hasil panen petani binaan kita yang bermitra dengan kita nantinya akan kita tampung kembali. Sehingga para mitra tak khawatir akan jual hasil panen mereka,” paparnya.

Dia memaparkan, sejak berwirausaha pada tahun 2015, dia memiliki Petani mitra binaan sekitar 1320 orang yang terdiri dari berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Surabaya, hingga yang terjauh dari Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi.

Menurutnya, hasil panen petani binaan per satu kilogram lobster air tawar di hargai sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu.

Budidaya lobster air tawar yang begitu menggiurkan ini dapat menjadi ketahanan pangan selama Pandemi. Apalagi, lobster merupakan makanan Seefood bernilai ekonomi ini sangat laku dipasaran lokal maupun luar Negeri.

Budidaya lobster air tawar sendiri, kata Ayu, hanya membutuhkan modal sedikit dan dapat memanfaatkan lahan sempit.

“Lahan budidaya lobster dapat menggunakan kolam ukuran satu meter x satu meter itu sudah cukup. Bibit atau indukan lobster dapat membeli sesuai paket mulai dari Rp 16.000 sampai Rp 600 ribu,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, budidaya lobster air tawar membutuhkan waktu sekitar dua bulan (Benih) dan lima bulan (Konsumsi). Pembesaran benih lobster air tawar mulai dari ukuran tiga inci yang dibesarkan untuk keperluan konsumsi.

“Lobster air tawar konsumsi dapat dipanen dari beratnya minimal berat 50 gram satu kilo sekitar 15 sampai 20 ekor,” tandasnya. (fad/gk)

Baca juga :