Tiga Wanita Muda di Mojokerto Buat Kerajinan Kayu Bernilai Jual Tinggi

Mojokerto – Berawal dari hobi menyukai seni dan memanfaatkan limbah kayu, tiga perempuan muda di Mojokerto berhasil membuat kerajinan karya hand made Wooden Craft (kerajinan kayu) bernilai jual tinggi.

Mereka adalah Amalia Winda (22) mahasiswi jurusan Pendidikan Seni Rupa Unesa Surabaya, Aprilia Hermianti (23) Jurusan Seni Kriya ISI Surakarta, dan Diah Fatma (27) alumni Jurusan Pendidikan Seni Rupa Unesa Surabaya.

Informasi yang dihimpun Reporter Maja FM, mereka menciptakan atau memproduksi hand made Wooden Craft berbahan limbah kayu di Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

Dari tangan kreatif mereka, peralatan pertukangan yang kerap digunakan oleh kaum laki-laki seperti gergaji, bor hingga gerinda, obeng, pahat, palu, alat serut kayu hingga meteran bisa menghasilkan karya Handmade Wooden Craft bernilai jual tinggi.

Seperti, gantungan kunci, Phone Holder, Stand Wood Earphone Holder, vas bunga kayu, box cincin, Stand Wood Ipad, Stand Wood laptop, hingga Wooden Book Classic Cover.

Tiga perempuan kreatif asal Mojokerto ini juga dilatarbelakangi jurusan seni yang sama di salah satu kampus di Surabaya. Kemudian mereka berinisiatif untuk mengolah kiloan limbah kayu selama pandemi Covid – 19.

“Jadi itu ada tiga anggota saya, Winda dan Mbak Diah disini kami latar belakang kuliah seni. Terus kita berpikir bagaimana produk-produk kayu ini bisa diolah,” ungkap Aprilia Hermianti (23), Minggu (15/11/2020).

Ketiganya memperoleh limbah kayu hanya dengan harga Rp 70.000 sampai Rp 80.000 per ikat, dan disimpan di area belakang rumah salah satu tim produksi.

“Bahan-bahan limbah kayunya seperti kayu pinus, kayu mahoni, kayu jati dan kayu kopi,” ucap Apeng sapaan akrabnya Aprilia (23).

Di rumah Aprilia, ketiga perempuan ini merubah ruang di lantai dua menjadi bengkel produksi yang dipenuhi peralatan pertukangan yang lazimnya digunakan kaum pria.

“Kayu bekas dipilih sesuai dengan materi yang akan kami buat sesuai pesanan customer. Contoh pesanan diary kayu atau Wooden Book Classic Cover, kita ukur dulu, kemudian dipotong, dan diamplas terlebih dahulu agar hasilnya halus,” paparnya.

Untuk menghasilkan produk kayu tersebut, ketiganya secara bergantian dalam setiap proses pembuatan. Mulai dari pemilihan bahan kayu, pengukuran dan pemotongan, pengamplasan, pengepresan kayu, pembuatan sketsa, penyoldieran, pemflituran, hingga finishing packkaging.

Seperti Amalia Winda (22) dan Diah Fatma (27), keduanya memiliki kelebihan dalam bidang sketsa. “Saya lebih detail di bagian sketsanya, kalau Apeng dia jurusan Seni Kriya. Jadi untuk pensoldieran dikerjakan Apeng,” imbuh Winda.

Kata Winda, dia dan kedua temannya berusaha memasarkan produk handycraft ini melalui online atau media sosial. Sehingga pesanan yang masuk saat ini hingga luar pulau Jawa seperti Riau, Sulawesi, dan Kalimantan

“Alhamdulillah sampai saat ini pengerjaan lancar, untuk diary inden tiga hari selesai. Harga jual hasil karya kami mulai dari gantungan kunci Rp 10.000 hingga Rp 750.000 untuk hiasan dinding. Kalau diary kayu sendiri dibanderol dengan harga Rp 85.000 saja lengkap dengan 40 lembar kertas,” jelasnya. (fad/gk)

Baca juga :